Sejujurnya saya bukan penikmat setia motogp,saya hanya bagai anak-anak yg terkagum dengan kostum menarik dan lutut nyentuh aspal ketika menikung, keren sih tapi mereka sedang bertaruh dengan nyawa dengan membalap sampai 300 km/jam.
Pembalap pertama yang menurut saya keren adalah Mick Doohan, saya lupa dia menang berapa kali tapi yang pasti dia juara dunia banyak kali, faktor yang membuat saya memilih mick doohan ada beberapa faktor. 1. bapak saya sudah meng-insepsi sejak dulu bahwa honda itu irit dan dari dulu dia memakai honda, walaupun notabene motor pertamanya piaggio vespa. Jadi harus pabrikan honda 2. Naluri saya mengatakan memilih doohan. Pokoknya saya mau yang motor oranye dan selalu menang.hahaha.
Setelah doohan pensiun motogp seingat saya sudah bukan 500 cc lagi dan valentino rossi memulai eranya, memakai honda juga, saya yakin naluri saya tidak memilih rossi, tapi memilih sete gibernau yang setia menguntit rossi. Gibernau tergabung di Gresini Honda dan untung masih honda. Sejak rossi mendominasi dari menunggangi Honda sampai yamaha, dan masuk jorge lorenzo, casey stoner, saya hanya melirik sebentar. Sampai musim ini melihat marco simoncelli, wow sekali lagi naluri dan analisa pengamat abal-abal sepertinya rider ini punya potensi mendobrak dominasi pembalap lama.
Saya nontonnya lewat tv lokal yang komentatornya matteo si pembalap lokal impor, saya selalu berdoa ya Tuhan semoga Matteo tidak prediksi simoncelli naik podium, karena setiap dia memprediksi selalu gagal. Kata matteo, simoncelli hanya butuh waktu untuk kuasai motornya jadi sejak saat itu saya harus nonton Simoncelli balapan.
Kebanyakan celaka, slip sudah jadi kebiasaan, rider lain jadi mengeluh. Sempat dipecundagi doviziozo dan spies beberapa kali, mendekati akhir musim setelah dapat kontrak baru dan kepastian menjajal 1000 cc performa simoncelli semakin konsisten dan akhirnya kecelakaan tragis menimpanya . Sepertinya saya harus mengandalkan naluri lagi untuk mencari “jagoan” baru.
Ciao sic!!
Thank you for the race, ane dukung ente loh!! Sayang ente kagak lama.
